-->

Jadi Pemuda NKRI, 9 Hal Ini Buat Kamu Bersyukur

jadi pemuda nkri, 9 hal ini buat kamu bersyukur

Apakah rekan muda termasuk salah satu anak muda yang sering mengeluhkan kebobrokan bangsa lewat berbagai corong? Apakah rekan muda merasa tak beruntung dilahirkan di negeri yang katanya kaya ini, tetapi ternyata tetap banyak celanya macam Indonesia? Merasa kondisi negara lain di luar lebih jauh baik dari negara kita, sehingga membuat rekan muda ingin hengkang saja?

Maka dari itu kilaspemuda akan memaparkan beberapa hal yang seharusnya membuatmu bersyukur serta bangga telah dilahirkan sebagai pemuda Indonesia. Apa saja kah hal-hal tersebut? Rekan muda bisa temukan jawabannya di bawah ini!

1. Pemuda Sebagai Warga Negara Terbanyak di Indonesia


pemuda sebagai warga negara terbanyak di indonesia

Dalam pendataan penduduk Indonesia, pemuda menempati angka paling banyak. Tidak main-main, saat ini saja jumlah penduduk yang berusia muda di Indonesia sudah mencapai 40 juta jiwa. Pada tahun 2025 nantinya, diperkirakan angka ini bisa meroket hingga angka 60 juta jiwa. Secara angka kita di atas kertas!

Banyaknya penduduk muda di Indonesia memiliki 2 dampak yakni positif dan negatif. Kekurangan dari kondisi ini ialah, jika tidak dipersiapkan dengan baik kedepanya kita bisa kesulitan mendapatkan pekerjaan karena jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan jumlah lapangan pekerjaan.

Namun di lain hal, banyaknya penduduk muda di Indonesia juga berarti ada harapan baru yang akan ditawarkan. Kita bisa jadi tokoh utama penggerak perubahan. Beberapa tahun kedepanya, angkatan Bapak-Ibu kita sudah turun dari tampuk kepemimpinannya. Saat perubahan estafet kepemimpinan terjadi, kita lah yang akan dapat kesempatan dalam melanjutkan perjuangan mereka untuk negri ini.

2. Pemuda Sudah Lebih Dipercaya untuk Jadi Pemimpin


pemuda sudah lebih dipercaya untuk jadi pemimpin

Jalan yang panjang menuju pemerintahan yang bersih dan transparan membuat anak muda lebih dipertimbangkan untuk menduduki berbagai posisi strategis saat ini. Di negara kita, usia muda seakan menawarkan banyak harapan perubahan. Terlepas dari usia muda yang sering dikaitkan dengan minimnya pengalaman, tapi nyatanya banyak tokoh muda yang justru dipercaya untuk memegang pucuk kepemimpinan.

Mari kita lihat Mardani H Maming, Bupati Kalimantan Selatan yang memulai karirnya sebagai anggota DPRD di usia 25 tahun. Terobosan kebijakan dieksekusinya dengan cepat, minim birokrasi dan interaksinya yang dekat dengan masyarakat membuatnya terpilih oleh rakyat.

Di banyak negara luar, mendapatkan kepercayaan dan memenangkan hati masyarakat tidak bisa dilepaskan dari pengalaman dan rekam jejak. Sedangkan masyarakat Indonesia yang haus akan perubahan justru bisa lebih percaya pada pemuda yang punya pendekatan berbeda dalam memecahkan sumber masalah.

3. Banyak Orang Tua Indonesia Membiayai Kebutuhan Anaknya Sampai Pendidikan Selesai


banyak orang tua indonesia membiayai kebutuhan anaknya sampai pendidikan selesai

Hal yang sangat harus disyukuri lagi dari kultur Indonesia, ialah keberadaan orang tua yang hubungannya sangat dekat dan suportif dalam berbagai bidang. Dalam kebudayaan kita, anak akan tetap jadi tanggungan orang tuanya sampai mereka selesai dalam urusan pendidikannya. Kita tak diharuskan kerja paruh waktu untuk membantu membayar cicilan pinjaman uang kuliah kita, bahkan tidak jarang sokongan dari orang tua masih tetap ditemui hingga selepas bekerja dan menikah.

Orang tua Indonesia memang tidak ada duanya. Mereka punya aturan dan kebiasaan yang unik dan memang sering membuat kita terkekang. Tapi di sisi lainnya, keberadaan dan sokongan dari mereka juga bisa mendukung kesempatan kita untuk memaksimalkan potensi kita. Kita tidak harus pusing soal pemenuhan materi, kita bisa lebih fokus pada pendidikan dan dunia akademis kita.

4. Mudah Merintis Start Up Company, Jadi Pengusaha Kecil-Kecilan


mudah merintis start up company, jadi pengusaha kecil-kecilan

Masih ingat kiamat ekonomi kecil yang menerpa Amerika Serikat pada 2008 lalu? Saat itu perekonomian Amerika seakan mati suri. Banyak perusahaan besar terpaksa memecat pegawainya. Tidak ada lagi kesempatan kerja terbuka. Akibatnya anak muda dengan gelar Masterpun kesulitan mendapat pekerjaan. Pengangguran bergelar tinggi jadi hal yang wajar di negara Paman Sam bahkan hingga hari ini.

Secara matematis neraca perekonomian kita memang belum layak dibandingkan dengan negara-negara adidaya. Tetapi negara kita menawarkan kemudahan kesempatan kerja di sektor informal yang negara lain tak punya. Di Indonesia ketika masih jadi mahasiswa saja rekan muda sudah bisa buka UKM atau merintis startup company. Tidak perlu repot mengurus izin usaha yang berbelit, selama ada ide dan keberanian, maka kucuran modal usaha langsung bisa dieksekusi.

Kasarnya bisa dibilang kalau belum bisa dapat pekerjaan kantoran, anak muda Indonesia bisa banting setir jadi penjual roti bakar atau pengembang web tanpa harus mengurus izin usaha yang sulit. Selama mau usaha yakinlah di negara ini selalu ada lapangan kerja.

5. Tidak Perlu Melompat dari Satu Kerja Magang ke Kerja Magang Lain


 tiddak perlu melompat dari satu kerja magang ke kerja magang lain

Saat kita mengeluh lapangan pekerjaan di Indonesia sempit dan persaingannya yang ketat, sesungguhnya hal yang serupa juga sedang terjadi di belahan dunia luar. Bahkan lebih parah. Di Amerika Serikat dan Eropa misalnya. Di dua negara yang maju ini pemandangan pegawai magang dengan gelar Master dan bekerja tanpa dibayar sudah amat wajar ditemukan.

Mereka rela bekerja dengan status pegawai magang yang bahkan bekerja tanpa dibayar, dengan harapan bisa diangkat sebagai pegawai tetap. Tapi tidak jarang mereka harus bertahan dengan status magang hingga hitungan bulan yang cukup lama, atau bahkan dalam jangka waktu tahunan, Itu juga belum tentu pasti bisa dapat kontrak permanen karena pesaingnya tak sedikit.

Sedangkan di negara kita, anak muda bisa langsung meniti jenjang karir sebagai pegawai tetap setelah dinyatakan lulus Sarjana. Bahkan terlihat ada beberapa perusahaan yang mau menerima mahasiswa tingkat akhir sebagai pekerja.

6. Sistem Pendidikan Indonesia yang Mendidik Kita Jadi Pembelajar yang Tangguh


sistem pendidikan indonesia yang mendidik kita jadi pembelajar yang tangguh

Sistem pendidikan Indonesia yang menjejali anak didiknya dengan berbagai materi sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar memang tidak layak dipuji. Harus diakui pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan bakat anak memang masih belum dikembangkan dengan matang di negeri ini. Dampaknya sedari kecil kita sudah dicekoki oleh berbagai pelajaran yang kadang tidak terpakai lagi dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi di balik kekurangan sistem pendidikan yang kita miliki, ada satu benang merah yang terlihat jelas dari lulusan sekolah Indonesia, yaitu TANGGUH.

Barangkali karena kita terbiasa terpaksa belajar banyak hal dalam waktu yang singkat. Saat kita sekolah di luar negeri yang pelajarannya lebih spesifik, kita tidak lagi merasa kesulitan. Belajar hal yang di luar bakat dan minat saja sudah pernah kita lakoni, saat harus belajar hal yang lebih spesifik semestinya akan lebih mudahkan?

7. Negara yang Penuh dengan Tawaran Beasiswa Luar Negri


negara yang penuh dengan tawaran beasiswa luar negri

Kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri bukan lagi hal yang mewah bagi anak muda Indonesia. Sebagai negara yang masih dikategorikan dalam “Negara Dunia Ketiga” oleh World Bank. Indonesia memang masih memenuhi syarat untuk menerima dana bantuan pendidikan yang ditawarkan oleh berbagai program beasiswa dari negara di dunia.

Program Erasmus Mundus, StuNed, ADS, Fullbright, hingga Beasiswa JASSO tersedia untuk setiap tahunnya. Bahkan sekarang pemerintah Indonesia lewat program Beasiswa LPDP juga menawarkan skema pembiayaan bagi rekan muda yang ingin melanjutkan pendidikan di universitas ternama di luar negeri.

8. Hidup di Lingkungan yang Penuh Keberagaman


hidup di lingkungan yang penuh keberagaman

Keberagaman suku dan budaya di Indonesia adalah kekayaan yang negara-negara lain di dunia tidak punya. Cuma di Indonesia rekan muda bisa bertemu orang yang tinggal di satu negara tapi menggunakan bahasa dan dialek yang berbeda. Keberagaman ini sesungguhnya sudah mendidik kita jadi manusia yang lebih bisa menerima perbedaan.

Walau di dalam negeri perbedaan masih kerap terjadi sumber konflik, tapi sebenarnya kita adalah manusia-manusia yang telah dilahirkan, dididik, dan dibesarkan di tengah lingkungan yang sama sekali tidak homogen. Kita punya banyak bekal untuk jadi manusia yang tidak hanya bisa menerima perbedaan, tapi juga mampu merayakannya sebagai sebuah kekayaan negri ini.

9. Negara yang Penuh dengan Kesempatan


negara yang penuh dengan kesempatan

Lompatan pencapaian sangat mungkin terjadi di Indonesia. Di negeri kita, rekan muda bebas bermimpi apa saja. Pintu kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik selalu terbuka lebar, bagi mereka yang tidak keberatan memberikan kerja keras dan usaha tanpa henti. Tidak peduli rekan muda datang dari keluarga macam apa, latar belakang ekonomi seperti apa, semua pencapaian sangat mungkin untuk bisa rekan muda dapatkan.

Lihat saja kisahnya Raeni, anak tukang becak yang mendapapatkaan beasiswa kuliah ke Inggris. Atau tidak usah jauh-jauh, lihatlah teman-teman sejawatmu saat kuliah yang kini perlahan bertansformasi jadi eksekutif muda dikampus. Bahkan lihatlah dirimu sendiri. Yakinkah rekan muda bisa mendapatkan posisi dan tanggung jawab yang rekan muda lakukan saat ini jika tidak tinggal di Indonesia?

Kultur dan kesempatan yang diberikan oleh negara ini membuat kita bisa jadi apa saja. Asal diimbangi dengan kerja keras yang tak ada hentinya serta berdoa tentunya.

Nah, itulah 9 hal kecil yang patut kita syukuri, masih banyak hal besar yang harus kita syukuri salah satunya HIDUP ini.