-->

5 Momen Ini Membuat Anak Perantauan Semakin Dewasa

5 momen ini membuat anak perantauan semakin dewasa

Mungkin rekan muda pernah merasakan bahwa hidup itu membosankan karena terasa kurang tantangan. Rekan muda juga merasa bahwa selama ini rekan muda hanya berjalan di dalam belenggu kenyamanan. Akhirnya merantau jadi pilihan, sebagai usaha rekan muda untuk keluar dari zona nyaman.

Di tanah orang yang tidak rekan muda kenal, rekan muda berharap bisa menemukan kembali tantangan yang dulu sempat membuat hidup rekan muda bosan. Namun nyatanya, hidup di perantauan tidak semudah yang rekan muda bayangkan. Terlalu banyak hal-hal baru yang kadang buat rekan muda kelelahan atau bahkan terpaksa menangis karena sudah tidak tahan.

Untuk rekan muda yang anak perantauan, entah yang lagi menempuh pendidikan atau menjalani sebuah pekerjaan, 5 momen berikut ini pasti akan rekan muda rasakan. Momen-momen tersebut tidak jarang akan membuat rekan muda pelan-pelan belajar, bahwa proses pendewaasaan di tanah orang benar-benar penuh akan tantangan.

1. Saat tabungan kian menipis, makan seadanya jadi pilihan


makan seadanya saat tabungan menipis

Hidup di kota orang memang tidak senyaman ketika berada di kampung halaman. Dimana, kelanjutan hidup rekan muda sepenuhnya tergantung pada usaha rekan muda sekarang. Tidak lagi bergantung pada ibu, ayah, atau tetangga sekitar.

Begitu pula ketika uang di tabungan rekan muda pelan-pelan terkikis karena kebutuhan sehari-hari. Akibatnya rekan muda harus pintar-pintar mengatur pengeluaran rekan muda, agar sisa tabungan yang ada cukup untuk kehidupan rekan muda. Seperti makan seadanya atau bahkan rela menahan hasrat rekan muda untuk jajan di kala saldo tabungan yang tinggal beberapa digit angka.

2. Kegagalan rekan muda simpan sendiri. Malu harus berbagi dengan teman apalagi keluarga


menyimpan kegagalan sendiri

Perjuangan rekan muda di tanah rantau belum terasa ketika rekan muda belum mengalami kegagalan di sana. Sebab dari kegagalan itulah rekan muda bisa mengerti sejauh mana kemampuan rekan muda dalam berjuang meraih sesuatu. 

Kegagalan ketika berada di kota orang juga akan buat rekan muda belajar tentang susahnya berdamai dengan rasa sakit yang rekan muda alami disana. Meskipun saat berdamai dengan rasa sakit itu rekan muda terpaksa menikmatinya dalam kesendirian. Tanpa keluarga ataupun kerabat yang bisa menemani.

3. Niat berusaha kuat, namun sakit di perantauan membuat rekan muda semakin rindu rumah dan orangtua


sakit di perantauan

Momen sakitnya rekan muda juga bisa menjadi momen yang tidak akan terus diingat. Karena, rekan muda pasti akan berusaha menjadi kuat untuk menahan rasa sakit itu sendirian. Bukannya makin sembuh, malah rasa sakit rekan muda itu justru buat rekan muda semakin rindu akan rumah dan orangtua di sana. 

Apabila sudah seperti ini, rasanya rekan muda hanya ingin menangis saja. Sembari berharap sakit rekan muda tiba-tiba hilang serta rindu rekan muda akan orangtua pelan-pelan memudar.

4. Mendapat kabar orang tua sedang sakit. Cuma doa dan derai air mata yang bisa rekan muda haturkan


mendapat kabar orang tua sedang sakit

Tidak hanya saat rekan muda sakit saja yang mampu membuat rekan muda menitikkan air mata. Saat ayah atau ibu rekan muda tengah jatuh sakit juga mampu menghantarkan rasa sedih di dada. Apalagi ketika medengar kabar tersebut, rekan muda tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan atau deadline yang lainnya. Akibatnya rekan muda hanya bisa berdoa untuk mereka sembari air mata rekan muda bercucuran.

5. Ketika orangtua kembali ke kampung halaman. Setelah mengunjungi rekan muda secara diam-diam


orangtua mengunjungi rekan muda secara diam-diam

Selama bertahun-tahun merantau mungkin momen ini jarang sekali rekan muda alami. Atau mungkin hanya satu dua kali. Meskipun hal ini jarang terjadi, tapi sekalinya rekan muda mengalami momen seperti ini, perasaan rekan muda menjadi sangat campur aduk. Senang, kaget, bahkan sampai terharu.

Mereka datang diam-diam mengunjungi rekan muda di tanah rantau, setelah sekian lama rekan muda tidak pulang ke kampung halaman rekan muda. Mungkin orang-orang akan malu jika dijenguk seperti anak kecil, namun rekan muda malah bangga sekaligus terharu. Rasanya tidak rela kalau mereka hanya menjenguk rekan muda barang sehari atau dua hari saja. Bentuk perhatian mereka kepada rekan muda seperti ini akan buat rekan muda diam-diam bersyukur sembari berdoa.

Meskipun momen-momen tersebut memang tak mengenakkan bagi anak rantau, namun dari sana pelan-pelan rekan muda belajar akan arti dari sebuah kedewasaan yang matang. Proses menuju dewasa di tanah perantauan memanglah tidak semudah mulut berucap, tetapi rekan muda cukup menjalaninya dengan tabah dan semangat.