-->

Sekolah Literasi Jilid II Aceh

sekolah literasi jilid II aceh

Banda Aceh, Setelah sukses dengan pembukaan dan peresmian Sekolah Literasi pada Tahun 2019 lalu. Pada tahun ini, Sekolah yang diperkasai oleh salah seorang Senator muda DPD RI asal Aceh, yakni Fachrul Razi kembali mengadakan kelas literasi jilid dua yang diadakan di Aula Gedung Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Acara kali ini juga mengundang Ruslan Tambak selaku Pimred RMOL untuk memberi materi literasi digital kepada peserta sekolah literasi jilid dua yang mayoritas adalah mahasiswa. Para peserta yang lebih membludak dari acara tahun lalu juga terlihat sangat antusias dengan kegiatan sekolah literasi jilid dua.

Fachrul Razi dalam sambutannya mengatakan bahwa sekolah literasi hadir bukan hanya untuk mengajak mencintai membaca dan menyukai menulis, namun sekolah literasi juga mengajarkan bagaimana membaca isu dan memilah isu yang benar kemudian mengolahnya untuk disebarluaskan. "Bisa diibaratkan penulis sebagai guru dan siswa adalah pembaca". Dia meminta peserta untuk percaya diri dalam ber-literasi dan mengajak untuk membangun peradaban dengan literasi.

Ruslan Tambak sendiri sangat mengapresiasi gebrakan-gebrakan baru yang dilakukan oleh Fachrul Razi pada kaum muda agar peduli dan cinta terhadap literasi. Dia juga mengatakan bahwa ada empat poin penting untuk bisa menguasai dan mendapat manfaat dari literasi, empat hal tersebut adalah: Membaca, Menulis, Diskusi, dan Aksi.

CEO Kilas Pemuda, Teguh Hamzah yang juga turut hadir pada sekolah literasi jilid dua menyebutkan bahwa pengembangan literasi pada pemuda sangat dibutuhkan terutama untuk pemuda-pemudi Indonesia yang sangat rendah dalam berliterasi individual dan berliterasi sosial.

"Tak bisa dipungkiri bahwa gairah membaca pemuda-pemudi Indonesia terutama Aceh itu sangat rendah, dan itu bisa kita lihat dari minimnya karya-karya tulis yang dibuat oleh pemuda-pemudi kita. Tentu dengan adanya gerakan mengajak membaca dan menulis dari sekolah literasi setidaknya bisa mengurangi hal tersebut." Tuturnya.

Teguh juga menambahkan bahwa butuh sebuah kebiasaan yang dibangun setiap harinya untuk bisa cinta terhadap sesuatu, termasuk suka terhadap literasi.

"Butuh sebuah kebiasaan untuk suka hal baru, dan sebuah kebiasaan itu butuh waktu, dan waktu itu rela terbuang bila kita menyukainya. Jadi, semuanya saling berkaitan." Tutupnya.